Feeds:
Tulisan
Komentar

Atas Nama Cinta…

c-i-n-t-a

“Kita Mencintai Bukan Karena Sesuatu Itu Indah
Namun Karena Cinta Kita, Segala Sesuatu Menjadi Indah
Namun Tidak Semua Yang Indah Pasti Akan Dicintai” J. Rumi

Coba tanyakan kepada bayi yang baru dilahirkan, musik apa yang ia sukai, dangdut atau jazz, atau film apa yang ia sukai, komedi atau action, atau makanan bercita rasa apa yang ia suka, gado-gado atau lasagna ? Saya kira si bayi tidak akan memberikan jawaban apa-apa atas pertanyaan itu. Bukan…bukan karena si bayi belum bisa ngomong, tapi karena ia memang tidak/belum punya pengalaman atau referensi apa-apa atas pilihan-pilihan itu, sehingga tidak mungkin bagi si bayi mengatakan apa yang ia sukai diantara pilihan yang kita ajukan itu.
Apa artinya kenyataan atau fakta diatas ? Kenyataannya adalah tidak ada seorang manusia pun yang dilahirkan diatas dunia ini telah “ditakdirkan” untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Semua yang akhirnya menjadi sesuatu yang kita sukai atau menjadi sesuatu yang tidak kita sukai, semuanya kita peroleh melalui suatu “proses pembelajaran dan pengalaman”. Itulah sebabnya dalam dunia kuliner atau makanan ada istilah “acquired taste”, bahwa selera seseorang terhadap suatu jenis makanan tertentu sesungguhnya adalah hal yang bisa dipelajari dan dibiasakan. Artinya, kita bisa “mendidik dan melatih” diri kita untuk menyukai apa saja di dunia ini, walau pada awalnya hal itu sesuatu yang “tidak enak” bagi kita.
Supaya lebih gamblang, coba kita ambil rokok sebagai contoh. Tidak ada bayi yang lahir sebagai seorang perokok, apalagi perokok kelas berat. Dan hampir semua orang yang untuk pertama kalinya mengisap rokok, pasti akan mengatakan asap rokok sangat tidak enak sambil terbatuk-batuk. Tapi apa yang terjadi kemudian, melalui proses pengulangan dan pembiasaan terus menerus, rokok yang tadinya terasa sangat tidak enak, akhirnya menjadi enak, bahkan lebih parah, akhirnya menjadi kecanduan dan menimbulkan ketergantungan.
Proses yang sama, sebenarnya terjadi dalam semua aspek kehidupan kita seluruhnya. Termasuk jika kita mencintai atau membenci orang tertentu. Sebenarnya, tidak ada bayi yang begitu lahir, langsung cinta kepada orang tertentu dan benci kepada orang yang lain. Jika kemudian kita menjadi cinta kepada orang tertentu, atau menjadi benci kepada orang tertentu, kecintaan dan kebencian kita itupun, kita peroleh dengan melakukan pembelajaran, pembiasaan dan pengulangan terus menerus dalam diri kita.
Kepada orang yang (ingin) kita cintai, kita akan terus-menerus belajar dan berusaha serta membiasakan diri untuk mencintainya, termasuk dengan cara menutup mata dan telinga kita kepada hal-hal yang sebenarnya tidak kita sukai pada orang yang kita cintai tersebut (ingat pameo “Cinta itu Buta” ?). Demikian juga jika kita membenci orang tertentu, kita pun terus menerus belajar, membiasakan diri dan mengulang secara konsisten rasa benci kita kepada orang tersebut, dan menutup mata serta telinga terhadap hal-hal yang sebenarnya kita sukai pada orang tersebut. Tidak ada satu manusia yang sangat sempurna sehingga kita juga dapat mencintainya dengan sempurna, namun ditengah kekurangan tersebut, kita belajar dan membiasakan diri untuk terus menerus mencintainya, dan akhirnya berhasil mencintainya.
Disinilah rahasianya. Cinta dan Benci sebenarnya adalah kata kerja (love is a verb) bukan kata keadaan. Kalau anda mencintai seseorang, itu bukan keadaan atau rasa yang secara otomatis timbul dalam diri anda. Rasa cinta terhadap seseorang yang ada dalam diri anda timbul karena anda (dengan sengaja berusaha) untuk mencintainya. Ada usaha dan kemauan keras yang harus anda lakukan untuk mencintai seseorang, termasuk mengabaikan dan menutup mata pada kekurangan-kekurangan yang ada pada orang tersebut.
Kalau Anda mau melakukan hal ini kepada semua orang, Anda pasti bisa mencintai siapa saja, termasuk mencintai orang yang saat ini anda tidak sukai, bahkan anda bisa mencintai musuh yang anda benci setengah mati. Bayangkan betapa bahagianya hidup anda jika anda mau melakukan hal ini. Mencintai satu orang saja bahagianya luar biasa, apalagi jika anda mau mencintai semua orang, bahagianya pasti luar-luar-luar biasa…..
Tantangannya : Bukan bisakah anda (karena anda pasti bisa), tapi maukah anda ?

 

Kalau yang ini masuk kategori porno nggak sih ?

# Poll-pollan menggunakan jasa baiknya polldaddy, hatur nuhun !

Kekuatan Sebuah Keinginan

Suatu hari Socrates, sang philosof, didatangi seorang pemuda yang bertanya tentang bagaimana mencapai kebijaksanaan. Oleh Socrates pemuda itu dibawa ke tepi sungai lalu dibenamkannya kepala pemuda itu kedalam air sampai pemuda itu meronta-ronta karena hampir kehabisan nafas. Setelah si pemuda berhasil mengangkat kepalanya dari air dan menenangkan diri, Socrates bertanya kepadanya, apa yang kamu inginkan ketika hampir kehabisan nafas ? pemuda itu menjawab tentu saja ia sangat menginginkan udara (oksigen maksudnya). Socrates melanjutkan, jika keinginanmu untuk mencapai kebijaksanaan sama kuatnya dengan keinginanmu untuk mendapatkan udara ketika hampir kehabisan nafas dalam air, maka kamu pasti akan mendapatkan kebijaksanaan itu.

Apa yang terkandung dalam kisah Socrates diatas ? menurut saya Socrates menyampaikan betapa pentingnya kekuatan keinginan (The Power of Will) kalau kita ingin mencapai sesuatu. Bukan sesuatu yang berlebihan jika kita katakan, apa yang kita dapatkan berbanding lurus dengan keinginan kita mendapatkannya.
Dalam analisanya mengenai motivasi manusia, Anthony Robbin mengatakan, hanya ada dua yang sebenarnya mendorong setiap tindakan manusia, yakni, mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin mendapatkan kebahagiaan atau sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin menghindari penderitaan, sekuat itu pulalah keinginan atau will yang kita miliki, dan sejauh itu pula pencapaian yang akan kita dapatkan.
Jadi, kalau kita mengevaluasi hidup dan pencapaian yang telah kita raih sejauh ini, semuanya menunjukkan dengan jelas itulah tingkat will atau keinginan yang berhasil kita kembangkan dalam diri kita selama ini. Kalau kita merasa hidup kita mandek dan tidak bergerak kemana-mana, itulah level atau tingkat will yang ada dalam diri kita, juga mandek dan tidak kemana-mana. Sampai kita berhasil menginginkan sesuatu SAMA KUATNYA seperti kita menginginkan oksigen ketika kita kehabisan nafas, baru pada saat itulah kita mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan.
Jadi, kalau ingin mendapatkan sesuatu dalam hidup ini, cobalah tanya diri anda sendiri : Benarkah Anda sungguh-sungguh ingin mendapatkan hal itu ? Apakah Anda “meronta-ronta” untuk mendapatkannya ? Bahkan, apakah anda bersedia dan rela mati untuk mendapatkannya ? Kalau Anda dengan yakin menjawab 100% “YA”, bersabarlah sebentar, Anda pasti mendapatkannya. Namun kalau Anda menjawab “tidak” atau “ragu-ragu”, Anda pun harus bersabar, karena besar kemungkinan Anda tidak pernah mendapatkan apa yang anda inginkan tersebut.
Sampai Anda mampu merubah tingkat “will” Anda, barulah perubahan terjadi dalam hidup Anda. Percayalah :

“Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, sampai orang itu merubah nasibnya terlebih dahulu”.

Sudahkan teman-teman berkeinginan hari ini lebih baik dari kemarin ?

Sebagai pendatang di kampung halaman orang lain, kami mempunyai rejeki untuk membeli sebuah rumah di sebuah perumahan, yang sebenarnya juga merupakan bagian dari fasilitas perusahaan tempat bekerja.
Layaknya rumah-rumah di perumahan yang lain, maka bentuknya sama dan seragam, hanya cat dan nomor rumahnya yang berbeda. Apa yang ingin saya ceritakan disini, adalah betapa rumah ataupun apa saja yang sebenarnya kita miliki dan pergunakan, mencerminkan siapa diri kita (watak) kita yang sebenarnya.
Kembali ke soal rumah tadi. Meski setiap rumah yang sama persis bentuk, ukuran, luas tanahnya, kualitas dan fasilitasnya, dalam perjalanan waktu, masing-masing rumah tersebut secara perlahan-lahan berubah – bermetamorfose dan menjadi berbeda antara satu dengan yang lain.
Ada rumah yang dalam perjalanan waktu, oleh penghuninya berubah menjadi sebuah rumah yang teduh dan asri. Ada rumah yang berubah bahkan menjadi seperti taman bunga. Ada rumah yang kemudian berubah menjadi ruko. Ada rumah yang berubah menjadi/dikelilingi kebun sayur-sayuran. Ada rumah yang seolah menjadi pasar burung, karena penuh dengan sangkar burung bergelantungan karena hoby pemiliknya. Ada rumah yang menjadi pelangi karena dicat ulang warna-warni oleh pemiliknya. Ada rumah yang tetap sama seperti aslinya. Ada rumah yang cepat sekali menjadi kumuh, seolah-olah terkena kutukan penyihir jahat.
Belum lagi kalau kita berkesempatan melongok ke dalam masing-masing rumah tersebut. Ada yang begitu kita masuk, kita seolah-olah masuk ke toko elektronik karena penuh dengan barang-barang elektronik berbagi rupa dan model. Ada rumah yang membuat kita seolah-olah masuk ke taman kanak-kanak, karena penuh dengan segala hiasan dan permainan untuk anak-anak. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »