Transparansi/keterbukaan itu penting untuk menutup pertanyaan dan kritikan. Pertanyaan dan kritikan (apalagi bernada sinistis) timbul karena kurang taunya kita pada inti masalah sebenarnya, kuncinya gampang ! Tinggal informasikan detil inti masalah berkapasitas jelas dan padat. Kalau sudah diinformasikan dengan jelas dan padat tapi kita masih bersikap sama, berarti kita harus jujur bahwa ada ”sesuatu” di diri kita (yang tahu hanya kita sendiri dan Tuhan).
Tatakrama itu juga penting untuk menggali keluarnya ”perbedaan”. Perbedaan apapun bentuknya yg didengungkan, sebaiknya kita hargai dan hormati. Semakin banyak perbedaan, semakin kita arif menyikapinya, karena “memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai !” (saduran dari novel Ayat-Ayat Cinta).
Ibarat mata uang, kita juga mempunyai 2 sisi, yaitu sisi baik dan buruk. Di suatu situasi sisi baik kita yang timbul tapi di situasi lain akan sebaliknya, maka layaknya dengan bertambah usia akan membuat sisi baik kita yang timbul dalam situasi apapun…………. Semoga! (thank’s for Mrs. Joice Jus Pontoh)
Hanyalah OB (orang biasa), asli Ciamis / Pituin Urang Sunda, buruh pabrik ngurusin MRP, di Taman Sentosa (J6/6) Cikarang, belajar go-blog (hari gini nggak punya blog ?)













Orang Biasa,,,,terkesan memang tidak artinya. Artinyapun bisa jadi orang biasa. Apakah arti yang sebenarnya ? Hanya hati nuraninya dan Allah yang mengetahui maksud dan arti yang sebenarnya.
Ulama-ulama dahulu malah lebih mengenalkan dirinya tidak hanya sebagai “orang biasa”. Namun dengan menjuluki dirinya sebagai Al-Faaqir.
Beliau menafikan dirinya sendiri walaupun sudah berpuluh-puluh bahkan ratusan Kitab yang telah disusunnya.
Subhanallah, Maha suci Allah yang telah menyembunyikan keshalihan hamba-hambaNya dikalangan penduduk dunia. Allah hanya ingin menampakkan dan menyebut-nyebutnya di Kalangan Penduduk Langit
Wallahu a’lam
Alhamdulillah,
hatur nuhun pisan, terima kasih Bp. Budi Ari, andalah pengunjung pertama di blog saya dan telah menyampikan komentarnya, hatur nuhun.
Oleh Orang jawa, manusia disebut “Manungso” yg artinya, manunggal dengan yang Maha Kuasa. Tetapi, justru manusia semakin sedikit, yang banyak adalah “Wong” atau “Uwong” yang berarti sifat manusiawi dan hewani masih kuat bersatu. Misalnya, masih banyak orang yg mengagung-agungkan Harta, Tahta atau derajat atau kekuasaan. Akibatnya manusia senang dipuji dan disanjung. Padahal yg berhak semuanya itu adalah Allah SWT. Itulah godaan Setan. Untuk menghilang sifat itu, kita harus dapat meper hawa nafsu, dengan cara puasa dan menahan diri.
Orang akan lebih fanatik jika mendapat sentuhan dengan hati bukan dengan kekuasaan. karena kekuasaan sebenarnya adalah semu bahkan dapat menimbulkan kebencian.
السلام عليكم ورحمة االه وبركا ته
numpang absen pak yoyo…. kapan mo maen krumah saya? bagaimana kabar keluarga? semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Aamin.
# Pa Saraswanto : terima kasih sudah sudi untuk mampir di blog saya
# Pa Ara : terima kasih juga, pasti saya absen Pa, yang hadir di blog saya, nanti kalau ada kesempatan, pasti saya mampir ke rumah Pa Ara.
assalamu’alaikum…
tulìsannya menyemangati banget
salam kenal…
# terima kasih sudah mampir dan memberikan penilaiannya…..