
Seorang dokter pernah menyampaikan kepada saya, bahwa obat dan racun sebenarnya adalah sama. Yang membuat mereka berbeda adalah “ukuran” atau “takaran” nya saja. Kalau seseorang mengkonsumsi obat secara berlebihan atau melebihi takaran yang seharusnya (overdosis), maka obat yang tadinya bermanfaat, akhirnya bisa berubah menjadi racun bagi orang itu.
Setelah saya pikir-pikir, kelihatannya hukum “sesuai ukuran” atau “sesuai takaran” ini kelihatannya berlaku dalam semua bidang kehidupan kita yang lain. Kita ambil contoh, misalnya olah raga. Olah raga tentu saja merupakan aktivitas yang baik untuk menjaga kesehatan, namun kalau seseorang berolah raga atau berlatih secara berlebihan (over-training), maka hal itu malah dapat berakibat buruk bagi kesehatan dirinya. Karena itulah, dalam berolah raga, dinasehatkan agar kita melakukan olah raga secara “teratur dan terukur”.
Bagaimana halnya dengan marah ?
Saya kira prinsipnya sama saja. Rasanya sulit kalau kita mencari orang yang tidak pernah marah selama hidupnya. Bahkan para Rasul, Nabi dan orang-orang yang mulia lainnya, pun pernah marah dalam hidupnya. Apa yang membedakan kemarahan mereka dan (mungkin) kemarahan kita adalah, orang-orang mulia itu meski marah, mereka masih mampu mengendalikan marahnya. Sehingga meskipun mereka marah, kemarahan mereka pun adalah kemarahan yang “terukur”. Sementara kita, kalau marah, mungkin sudah sampai lepas kendali.
Kalau kita membaca kembali buku “Kecerdasan Emosional” yang ditulis oleh Daniel Goleman, hampir seluruh bukunya mengupas tentang bagaimana kemampuan mengendalikan (mengukur) emosi, merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Bukan berlebihan jika dikatakan bahwa, sukses atau tidaknya seseorang dalam kehidupan ini, sangat tergantung kepada kemampuannya “mengukur” ekspresi emosional, baik dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri (intra-personal) maupun dalam hubungan seseorang dengan orang lain (inter-personal).
Berabad-abad yang lalu, Nabi Muhammad, SAW ternyata sudah mendapat info dari Allah, SWT tentang pentingnya “menjadi cerdas secara emosional” dalam melakoni hidup dan kehidupan di dunia. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Nabi Muhammad mengajukan pertanyaan kepada para sahabatnya. Siapakah yang paling kuat di dunia ini ? Mereka menjawab bahwa orang yang paling kuat adalah mereka yang selalu menang dalam berbagai pertarungan. Namun Nabi Muhammad menyanggah jawaban itu, dan mengatakan, orang yang paling kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri pada saat marah.
Jadi, bila anda ingin marah, silakan…!!! ingin diam, silakan….!!! asal jangan…………. :d
# Selamat menjalankan ibadah Shaum hari ke-21 teman-teman, semoga semakin bisa menahan hawa nafsu….dan bersiaplah “mengalap berkah” Malam Lailatul Qadar…..



Hanyalah OB (orang biasa), asli Ciamis / Pituin Urang Sunda, buruh pabrik ngurusin MRP, di Taman Sentosa (J6/6) Cikarang, belajar go-blog (hari gini nggak punya blog ?)












