
Setiap orang yang pernah kehilangan seseorang menginginkan balas dendam, bahkan pada Tuhan jika tak mereka tak menemukan orang lain untuk disalahkan. Tapi di Afrika, Suku Ku percaya bahwa satu-satunya cara mengakhiri kesedihan adalah dengan menyelamatkan nyawa. Jika ada seseorang yang dibunuh, masa setahun berkabung diakhiri dengan ritual yang disebut Pengadilan Penenggelaman. Pesta semalam suntuk diadakan di pinggir sungai. Saat fajar, si pembunuh dinaikkan ke atas perahu, diikat supaya tidak bisa berenang, dan perahu ditenggelamkan. Keluarga korban yang dibunuh harus memilih, mereka bisa membiarkannya tenggelam atau menyelamatkannya. Suku Ku percaya bahwa jika keluarga itu membiarkan si pembunuh tenggelam maka mereka telah mendapatkan keadilan tapi sisa hidup mereka dihabiskan dalam kedukaan. Tapi jika mereka menyelamatkannya, jika mereka mengakui bahwa hidup tidaklah selalu adil… tindakan itu dapat menghilangkan penderitaan mereka. (diterjemahkan dari sini).
Pilihannya ada pada diri masing-masing. Tapi ketika kapal itu kini sudah tenggelam, bersama si pembunuh di dalamnya. Apa itu berarti kita harus menghabiskan sisa umur dalam duka ? Ketika kapal tenggelam tak sanggup kita cegah, apakah maaf juga terlalu susah untuk diberikan ?
Jodoh, mati, senang, celaka (baca dalam Bahasa Sunda = jodo, pati, bagja, cilaka) semuanya adalah kehendak Tuhan, manusia tidak seorangpun yang bisa mengaturnya.
Dan hidup memang tidaklah selalu adil, jadi biarkan pengadilan setelah kehidupan yang menghakimi, bukankah yang pergi tak akan kembali ?
# Selamat hari Selasa teman-teman, cintailah hidup !
# Ilustrasi gambar dicopy tanpa ijin dari www.cartoonstock.com



Hanyalah OB (orang biasa), asli Ciamis / Pituin Urang Sunda, buruh pabrik ngurusin MRP, di Taman Sentosa (J6/6) Cikarang, belajar go-blog (hari gini nggak punya blog ?)












