Kesalahpahaman Dalam Sebuah Kerupuk

Mei 5, 2008 pukul 10:30 am | Ditulis dalam Blok-J | 7 Komentar

Alkisah di sebuah Republik Mimpi, ada sepasang suami istri yang baru saja melewatkan masa bulan madu mereka. Sama seperti halnya kebanyakan pasangan suami istri muda yang lain, sang suami kerja dengan model PPPPPP (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan), sang istri ada di rumah, beres-beres dan masak. Setiap kali sang suami pulang, minuman dan masakan racikan si istri sudah tersaji di rumah. Walaupun a la kadarnya, mereka makan dengan nikmat.

Kebetulan, sepasang suami istri ini punya makanan favorit yang sama, yaitu krupuk udang. Bedanya, sang suami suka krupuk udang yang tebal, sedangkan si istri suka yang tipis. Karena cintanya pada sang suami, si istri selalu menyajikan krupuk udang tipis kepada suaminya. Dia berpikir “ah, biarlah aku mengalah dengan makan krupuk yang tebal, sedangkan krupuk yang enak – yang tipis – aku sajikan untuk suamiku”.
Namanya pengantin baru, si suami OK-OK saja mendapat bagian krupuk yang tipis. Tapi lama-lama dia berpikir juga “wah, sialan nih, bagian yang enak dia embat terus, sementara aku diberi yang tidak enak”.

Suatu kali, sepulang kantor, sang suami ngambek. Dia tidak mau makan krupuk yang disiapkan istrinya. Istrinya heran juga melihat tabiat suaminya.

“Lho mas, kenapa krupuknya gak dimakan? Tumben, khan biasanya paling suka sama krupuk udang”. Dengan mencoba menahan emosi yang menggelegak di dada, sang suami berkata “Habis kamu curang sih, krupuk yang tebal kamu ambil, sementara aku diberi yang tipis, yang gak enak”.

Hening sesaat, lalu meledaklah tawa si istri. “Oalah, mas, mas. Ternyata selama ini dirimu suka yang tebal tho. Maksudku itu sebenarnya baik lho mas, karena aku suka yang tipis, maka yang tipis itu aku persembahkan untukmu. Lha kalo tau begini khan malah pas to mas, aku makan yang tipis, dirimu makan yang tebal”.

Lalu mereka mesra lagi dan hidup bahagia sampai selama-lamanya.

***

Moral cerita di atas adalah: komunikasi itu penting. Bahkan hal yang dianggap sepele seperti krupuk pun berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Si istri dalam cerita di atas memiliki maksud baik, tapi tanpa dikomunikasikan, hasilnya tetap tidak baik.

Kalau krupuk saja berpotensi menghasilkan kesalahpahaman, apalagi sebuah peraturan atau kebijakan. Pembuat peraturan atau kebijakan sebaiknya jangan dengan mudah berlindung di balik kata “demi kebaikan rakyat”, karena fakta berbicara bahwa amat sangat sering kebijakan pemerintah suatu negara dikecam habis-habisan oleh rakyatnya sendiri.

Terima kasih untuk : http://yahyakurniawan.net/seputar-kita/kesalahpahaman-dalam-sebuah-krupuk/

Iklan

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. test comment

  2. keren euy

  3. kok gak tau kalo suaminya suka yg tebal?
    wah…kurang mendalami ini si istri pas waktu pacaran…

    moralnya : pelajari dulu segala sesuatunya dengan detail, baru ambil keputusan.

  4. #3
    Wah, yang komentar tu dah menikah belum? Walau udah pacaran berapa tahun pun dan sudah terbuka seperti apapun, tetap saja belum tinggal serumah. Kalau sudah menikah dan tinggal serumah, pasti ada saja hal-hal baru yang ditemukan.

  5. .. seperti iklan teh celup itu tuh 🙂 komunikasi : satu kata singkat dan ringan di teori tapi susye banget di prakteknya 😀

  6. # 5 : Terima kasih kunjungannya di blog saya, betul, komunikasi, ringan di teori dan susah di prakteknya, tapi, tetap harus dikomunikasikan untuk menutupinya.

  7. Komunikasi sangat, sangat, dan sangat penting karena kita tidak dapat membaca isi pikiran orang lain. Apalagi kita memiliki sesuatu “maksud” yg menurut kita baik, tetapi menjadi tidak nyambung manakala tidak dikomunikasikan.
    Kelemahan kita selama ini biasanya kurang menerima opini yg berlawanan dengan “maksud” kita. Lebih susah lagi untuk dapat berpikir dan berjiwa besar menerima perbedaan tsb. Akhirnya yg muncul adalah intimidasi…….
    Lagi-lagi kekuasaan yg ditonjolkan.

    Opini yg berlawanan dianggap hasutan….
    Fakta yg merugikannya dikatakan fitnah….
    Oh….nasib beginikah menjadi OB (Orang Biasa)?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: