Telur Columbus

Mei 19, 2008 pukul 8:03 pm | Ditulis dalam Blok-J | 29 Komentar

Saya terinspirasi dari sini ditambah postingan dari Mr. Maryadi.

Sepulang Columbus dari perjalanannya yang fenomenal “menemukan” benua Amerika, berbagai penghargaan dan penghormatan datang melimpahinya. Namanya tenar dan perjalanannya menjadi pembicaraan di mana-mana. Walaupun banyak orang yang mengakui pekerjaannya sebagai sebuah prestasi, ternyata tidak semua orang dapat mengapresiasi dan menerima penghargaan yang diberikan atas kepeloporan Columbus. Apapun motif yang ada di benaknya, mereka senantiasa mencela Columbus.  “Ah, kalau cuma melakukan perjalanan seperti itu aku juga bisa, cuma aku saja yang nggak mau,” kata mereka.

Mendengar kata-kata miring yang ditujukan kepadanya, Columbus mendatangi mereka sambil membawa sebutir telur. Katanya, “Kalau kamu memang bisa melakukan seperti yang aku lakukan, sekarang tolong kamu buat supaya telur ini dapat berdiri tegak pada ujungnya.”  Mendapat tantangan Columbus, orang-orang itu satu persatu mencoba memberdirikan telur itu. Semua mencoba dan semua gagal karena telur itu selalu terguling setiap dicoba untuk diletakkan pada posisi berdiri. Setelah berulang-ulang mencoba dan gagal, akhirnya mereka menyerah. “Kalau kalian menyerah, maka aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana membuat telur itu dapat berdiri di meja, ” kata Columbus. Maka diambilnya telur itu, lalu diletakkannya dengan keras di meja sehingga bagian bawahnya retak. Dan telur itupun dapat berdiri di atas meja.
Melihat telur dapat berdiri di meja tapi dilakukan dengan cara seperti itu, orang-orang kemudian protes. “Kalau caranya seperti itu, kami semua juga dapat membuat telur itu berdiri di atas meja.”  — “Kalau kamu dapat melakukan seperti yang aku lakukan, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi..?”

 

Moral of The Story : Kalau tidak berhati-hati menjalani keseharian, kita bisa jatuh pada sikap seperti orang-orang yang mencela Columbus; meremehkan sebuah prestasi hanya karena menganggap diri kita bisa melakukan hal yang sama. Yang kadang kita lupa dan sering abaikan, “merasa bisa” dan “terbukti bisa” adalah dua hal yang berbeda.
Padahal, memuji dan menghargai dengan tulus kepeloporan orang lain justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian kualitas pribadi seseorang.

Jadi, kepada para pakar Balsem (seperti yang disebutkan oleh Paman Tyo), kita harus bisa menghargai kepeloporan orang lain, ya !

Iklan

29 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sepakat…
    kadang karena kesombongan kitalah, kita enggan mengakui kecemerlangan ide dan kepeloporan seseorang… 🙂

    # jadi, kesombongan-lah yang menjadikan hijab untuk diri kita

  2. yah kadang kita sulit untuk mengakui bahwa orang lain bisa melakukan sesuatu yg lebih baik dari kita (baca:orang kebanyakan), di butuhkan jiwa yg besar untuk bisa melakukannya, tapi memang harus di mulai dari sekarang kan?

    salam kenal, nuhun udh mampir 🙂

    # betul, jiwa besar & kerendahan hati, terima kasih kembali, sudah mampir ke tempat saya, Mbak Wiwin

  3. Saya dulu pernah bisa sekali memberdirikan telur itu sekali tanpa dipecahkan bawahnya (mungkin kebetulan secara mikro anatomi telur tersebut berbeda sedikit) tapi hanya sekali itu saja, sejak itu pakai telur lain tidak pernah berhasil lagi…… 😀

    # Kang Yari, yang anatomi-nya berbeda, pasti telur jenis lain ya, yang dimaksudkan Kang Yari ini ? aya-aya wae Akang ini !

  4. yup! setuju!

    # akur……

  5. Setuju..
    Entah kenapa kita sulit sekali mengapresiasi prestasi orang lain

    # perlu kebesaran jiwa juga……

  6. Hanya orang yg memiliki bathin bersih lah yg mampu menerima prestasi orang lain. Terkadang nafsu ingin dipuji, disanjung atau ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain yg membuat kita sulit menerima keberhasilan orang lain, sehingga apapun yg dilihat selalu dari sisi kekurangannya.

    Orang spt ini sebenarnya sedang menderita sakit (sakit batiniah). Sebagaimana mereka selalu meneriakkan untuk perbuatan baik, padahal tujuannya hanya untuk memperoleh pujian dan sanjungan. Manakala orang lain melakukan suatu perbuatan besar, mulailah penyakitnya kambuh. Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang spt itu.

    # Amin, semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal seperti itu…

  7. entah apa yang ada dalam benak, mengakui kelebihan orang lain seakan semakin sulit dilakukan, selalu ada kecenderungan saling menikam dari belakang.

    # Pelajaran untuk melatih kebesaran jiwa dan kerendahan hati

  8. wah keren banget ya si columbus bisa membuat tercengang orang2 yang mencibir nya..yup. kita harus menghargai penemuan orang lain..

    # Betul, mari kita banyak belajar untuk selalu menghargai kepeloporan orang lain

  9. huheuheuehueh

    abis sirik sih siriiiiiiiiiik ama yang sukses :))

    # Semua orang bilang seperti ini kok, Mbak Tazya

  10. oo ternyata cerita telur itu dari columbus. aku dah sering denger, tapi gak tau asalnya.

    # Saya juga baru tahu, Mas Rasyidi…:)

  11. Hmmm… maksud saya itu anatomi “mikro”, setiap telur mungkin berbeda sedikit, ada yang ujungnya agak rata, ada yang tidak ada kuningnya, ada yang ukurannya ekstra besar, dsb. Tentu ini sangat sangat jarang terjadi….. mungkin 1 di antara sejuta atau 10 juta….. di setiap sekumpulan spesies pasti ada anomalinya sedikit, itu suatu hal yang normal 😉

    # ooo, begitu ya, klarifikasi yang dapat dimengerti Pa Yari, terima kasih…

  12. ide memang mahal harganya 🙂

    # Ya, kita bisa menetapkan sebuah harga untuk sebuah ide, ada harga untuk itu….

  13. namanya juga manusia…
    ya kan ??

    # ya betul, karena kita manusia, makanya hal ini dijadikan pembelajaran untuk manusia

  14. ya… jangan cuma bisa kritik doang… hehehehehe

    # kritik juga harus Neng, tapi berimbang dengan penghargaan…..

  15. Memang sebuah teka-teki, problem, atau apapun namanya, akan menjadi sangat sederhana apabila jawabannya sudah diketahui. Serumit apapun masalah atau teka-teki itu. Salut, mari hargai kepeloporan. Salah satunya dengan mengurangi pembajakkan.

    # Akur Mas Rafki !

  16. Wah, jadi berkaca pada diri sendiri nih….
    saya masuk golongan pencela Columbus bukan ya?
    Salam kenal balik…. 🙂

    # saya yakin, Mbak Sejuta Puisi ini bukan kelompok itu…:)

  17. Saya golongan Roy Suryo… ambil referensi dari mana, baca intinya dan senangkepnya, bikin konferensi pers, Terus kalo ketauan bodohnya langsung lempar body. heuehehehee….

    # orangutanz juga manusia……

  18. pinter ya si Columbus 🙂

    # cerdik mungkin lebih tepat Mbak Ely

  19. betul itu!! kadang hal-hal yg sangat sepele, kadang malah terlupakan ama orang… (masih terkagum2 pada penemu korek api plus senter yang dijual dengan harga hanya beberapa ribu perak)

  20. Wah sip2…. (memuji)
    + applause…. 😀

    # pastinya pujian untuk Columbus kan, Kang Deniar ?

  21. “Merasa bisa” dan “Terbukti bisa”
    *Tertusuk-tusuk hatiQ euy…*
    –Ingat seseoang, yg sll Qkecewain gr2 merasa bisa… Wallah….berusaha&semangat!!
    Harap jgn heran mbak…(lg strezz)
    😀

    # dimaklum, kok Mbak, saya bukan Mbak, makasih !

  22. oo…ternyata telor kayak gitu ya om….

    # topiknya bukan telor Mas, tapi Columbus, hehehe…..

  23. tapi saya kasihan sama orang2 indian yg diinvasi oleh spanyol hiks hiks..

    # itulah sejarah Mbak, ceritanya sama, hanya ruang dan waktu yang berbeda….

  24. hmmm… bukankah ada pepatah… sirik tanda tak mampu..?? 😀

    # nah…., itulah salah satu faktor penyebabnya…..:)

  25. maap klo slh…wallah…hehe…maapin y…

    # hehehe, teu nanaon Neng ! 🙂

  26. wah bener bos
    begitulah kebanyakan watak kita

    seperti saat kuliah dulu
    banyak temen saya yang kecewa karena nilai ujian mereka D atau E
    dan mereka katakan ;
    “Perasaan saya bisa mengerjakannya.”
    Dan saya pun tertawa
    ngerjain ujian kok pakai perasaan, yang ada kan pakai pikiran. 😆

  27. Udah salah ngoto lagi. Dah ngotot salah ehhh gak mau ngalah 😀

  28. sarujuk.., kita memang harus mengakui bahwa peta buatan belanda,portugis, us army di masa lalu masih terbilang lebih dahsyat. jadi apa yang telah kita lakukan selama ini..? sebagai senimanpeta saya juga bingung

  29. Jujur saya kagum dg kolumbus, tapi sayang pelopor imperialisme, yg harus kita pelajari adalah teknik memecahkan masalah, bukan sifat serakah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: